Minggu, 06 Desember 2009

Pelajaran Dari Hape Rusak


Hari ini ada sesuatu yang cukup membahagiakan bagi saya. Ada apa? Handphone saya yang memang sudah sekian lama tombol angka 5 nya agak-agak macet entah kenapa tiba-tiba pulih. Tentu saja saya rasa begitu senang, kalau selama ini saya cukup menderita bila mau menulis sms sekarang sudah berkurang penderitaannya. Dan saya pun merasa punya semangat baru lagi jadinya hahaha… *lebay*

Pulihnya keypad hape saya ini bukan berarti langsung baik begitu saja. Entah kenapa malam ini saya agak-agak kurang kerjaan. Jadi saya iseng-iseng ‘menghajar’ hape saya yang seandainya saya punya duit berkarung-karung tentu sudah saya buang itu hape. Tapi karena jangankan sekarung, secelengan ayam pun sekarang lagi ga ada. Jadi biarpun rewel tetap aja itu hape saya sayang-sayang :) Nah, karena kurang kerjaan tadi saya pun nekat nyongkel-nyongkel sedikit itu keypad pakai jarum pentul. Dan dengan setengah emosi pula saya tumbuk-tumbuk pake bagian belakang pulpen. Tumbukan yang ga tanggung-tanggung meski ada perasaannya juga. Ternyata hasilnya lumayan ajaib menurut saya, keypadnya kembali normal. Wah, senangnya :D

Setelah memastikan emang kembali normal (ga tau juga bagaimana jadinya beberapa hari kedepan) saya pun berfikir, kenapa ga dari dulu aja ya tu hape saya hajar? Seandainya dari dulu mau begitu tentu saya ga perlu merasa menderita menulis sms hingga saya sekarang menghindari yang namanya sms. Saya sadar kenapa dulu ga nekat, itu karena saya punya teman yang hapenya sama persis dengan punya saya dan punya masalah yang sama pula. Teman saya itu sudah mendatangi beberapa tukang servis buat memulihkan itu hape tapi hasilnya para tukang servisnya pada angkat tangan. Ternyata biar kecil, masalahnya begitu sulit. Ya sudah teman saya tadi pasrah saja dengan hape begitu. Beruntung dia punya banyak duit jadi gampang aja beli yang baru. Sedangkan saya hanya bisa meratapi nasib dan menerima segala tingkah laku hape itu terhadap saya. Artinya saya termakan apa yang orang rasakan padahal saya sendiri belum mencoba memperbaikinya. Ternyata pas saya sedikit berusaha seadanya hasilnya malah ga terduga :D

Dengan suatu keberhasilan kecil dan tak disangka ini saya pun ingin mencoba menerapkan kembali pada suatu hal yang lain. Dulu saya pernah bercerita sedikit tentang laptop saya yang bermasalah pada LCDnya. Setelah sukses menginap sekitar satu bulanan di Pusat Perbaikan Alhamdulillah masalahnya pulih. Tapi apa yang terjadi sekarang? Setelah dua bulan kembali ke pangkuan ternyata masalah yang sama mulai menggejala lagi. Meski tak segila dulu tapi saya yakin lama-lama akan tiba saatnya penyakitnya mulai parah. Wah, saya pun mulai memikirkan jadinya. Haruskah diservis lagi? Meski masih dalam garansi entah mengapa saya kurang semangat untuk memperbaikinya untuk yang kedua kali. Dalam pikiran saya begini “Ah, namanya juga sebuah mesin. Jangankan mesin, manusia saja bisa error,” begitu pikir saya. Saya pun mencoba untuk tidak ambil pusing memikirkan laptop yang mulai kembali bertingkah ini. Tak mau dipusingkan hal-hal yang Nampak terlalu duniawi. Dengan kata lain dipusingkan oleh harta benda. Tapi setelah insiden pulihnya hape saya, saya serasa punya kesadaran baru. Meski kita tak menyayangkan suatu benda tapi ada baiknya pas terjadi masalah pada benda tersebut kita berusaha untuk memperbaikinya. Jangan menyerah begitu saja. Boleh menyerah tapi setelah berusaha, itu yang saya mau terapkan pada kondisi saat ini.

Akhirnya saya membuat suatu keputusan, misalkan laptop saya nanti masalahnya tambah rumit dengan sabar saya akan mencoba kembali men-servis laptop saya ini. Sebelumnya saya memang akan membiarkan sampai dimana laptop ini bisa bertahan, tapi sebagaimana yang terjadi dengan hape saya, kalau menyerah malah akan membuat kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Membiarkan saja tanpa berusaha memang ga akan membuat masalah baru, tapi membuat masalah yang terdahulu ga pernah selesai dan kita tak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalahnya. Dan akhirnya, baiklah, saya pun bertekad. Saya akan berusaha sebisa dan sedapat mungkin mengurusi laptop saya nanti. SEMANGAT! Yeahhh…

Ada sebuah kesimpulan penting setelah saya menulis ini. Kesimpulannya adalah saya sedang apes wahahaha… Sudah hape error, laptop pula yang bertingkah :D Inilah yang dinamakan nasib. Dasar nasib… nasiibbb… Mudahan diberi kesabaran aja dah oleh Allah T.T

Kamis, 03 Desember 2009

Hari Jadi Tanah Laut: Dzikir Bersama Ustadz H. Haryono


Hari ini ternyata merupakan hari jadi kabupaten tempat aku tinggal sekarang, kabupaten Tanah Laut, yang ke-44. Dan sebagai bagian dari perayaannya malam ini (barusan saja) diadakan acara yang cukup spesial. Dzikir akbar bersama Ustadz H. Haryono dari Jakarta. Wah, jarang-jarang memang ada acara spesial seperti ini. Bertempat di Masjid Syuhada, acara dimulai sebelum magrib. Yang datang memang cukup banyak jamaahnya. Maklum, Ustadz ini memang sudah banyak dikenal. Selain ahli dzikir, beliau juga ahli melakukan pengobatan melalui media dzikir juga. Ga satu dua yang sembuh, tapi banyak. Sampai-sampai kegiatan beliau ini menjadi liputan khusus di salah satu stasiun televisi swasta. Jadi tidak heran banyak yang hadir karena memang mau melihati beliau secara langsung.

Dimulai dengan sholat magrib dan sholat hajat berjamaah. Kemudian acara disusul dengan kata sambutan dari Bupati Tanah Laut, H. Adriansyah. Selain mengucap syukur di hari jadi kabupaten ini, dari sambutan beliau akhirnya diketahui bahwa yang menanggung segala dana di kedatangan Ustadz ini adalah seorang pengusaha dermawan asal pelaihari yang memang sekarang bertempat tinggal di Banjarmasin, H. Imam Abrori. Siapakah H. Imam Abrori? Wah, saya juga ga kenal juga. Mudahan nanti kalau ada waktu saya coba cari di google tentang beliau. Penasaran juga soalnya :) Selain memberitahukan tentang sang dermawan tadi, Bapak bupati juga memberi sedikit informasi tentang kemajuan dakwah di kabupaten Tanah Laut. Salut, ternyata memang sudah banyak kemajuan di daerah ini, baik dari segi tenaga pengajar, murid/santri nya maupun mesjid juga langgar (surau) di daerah ini.

Acara utama dimulai dengan pembacaan sholawat yang dibawakan oleh rombongan dari Jakarta. Trus tausyiah dari Ustadz sendiri yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan dzikir. Beberapa hal yang bisa saya ingat antara lain, bahwa dzikir itu memang sangat baik bila dilakukan dengan bersama-sama (berjamaah). Jadi kalau ada yang dzikir bersama itu dilarang, kata beliau itu tidaklah benar karena nabi Muhammad SAW memang menyarankan demikian. Diriwayatkan juga oleh beliau, bahwa dulu pada zaman nabi, ada dua kelompok yang melakukan dzikir secara terpisah. Dan oleh nabi mereka disuruh melakukan secara bersama-sama karena sesungguhnya adalah lebih baik dzikir itu dilakukan secara berjamaah. Ada lagi keutamaan dzikir berjamaah, saat menghadiri majelis dzikir meskipun salah seorangnya hanya ikutan nimbrung maka rahmat Allah juga sama terberi kepada orang yang menghadiri tersebut. Trus, dzikir juga bisa melapangkan rejeki hingga saat kesulitan pun bisa saja kita mendapat rejeki yang tak disangka-sangka. Tapi kesimpulan utamanya adalah tentunya dengan berdzikir, kita bisa mendekatkan diri lagi kepada Allah. Kalau suatu orang bisa sepenuhnya mendekatkan diri kepada Allah, bisa dibilang orang tersebut sudah punya segalanya. Ya ga?

Selesai tausiah dilanjutkan dengan dzikir bersama. Cukup menghanyutkan menurut saya. Ada kalanya merasa merinding saat berdzikir. Memang tak ada yang lebih berarti selain mengucapkan nama Allah dengan khusyu. Saya pun juga ikutan semangat mengucap asma Allah dengan bertenaga. Ah, memang saat-saat seperti ini yang saya sukai. Mengingat waktu yang habis hanya dengan hal yang itu-itu saja terkadang saya juga sesalkan hingga saya sering lupa menyebut namaNya. Jadi bila ada kesempatan semisal dzikir bersama ini saya lebih baik berusaha bisa menghadirinya. Dan dalam doa setelah dzikir tidak lupa saya meminta supaya punya lebih banyak waktu lagi untuk bisa berdzikir. Karena dalam sehari-hari ya gitu deh, sibuk yang ga jelas. Seakan dunia ini segalanya. Dan saya menyadari hal itu :)

Usai dzikir dilanjutkan dengan sholat isya berjamaah. Setelahnya, saya ga ikutan ‘memburu’ ustadz buat bersalaman ataupun ber-cium pipi. Kasian, orang sudah capek digituin pula. Lebih baik saya menunggu nasi kotak yang dijanjikan panitia. Lumayan, setelah dzikir ternyata lapar dan haus juga hehehe… Akhirnya, saya merasa bersyukur apa yang saya dapat hari ini. Mudahan saya pribadi benar-benar mendapat suatu pencerahan setelah berdzikir. Mungkin ini diharapkan pula oleh jamaah yang lainnya. Dan berharap segala doa yang telah bersama-sama diaminkan benar-benar diterima oleh Allah. Semoga segala rahmat dan kebaikan selalu terlimpah kepada kami selaku warga dan kabupaten tercinta. Amin.

Kamis, 12 November 2009

Proposal Ber-Ayatkan Cinta


Sebenarnya agak ga enak juga sih menulis cerita ini. Karena menyangkut pribadi orang lain. Tapi karena aku merasa ada sedikit pelajaran dari sini maka aku coba deh merangkum apa yang ada dalam pikiranku. Oke, bermula pas sore tadi aku di-sms-in temanku. Dia mau ngajak makan. Ditraktir. Gratis! Sebagai manusia yang suka sama yang gratis-gratis tentunya ga mau dong aku menyia-nyiakan kesempatan ini hehehe… Setelah kami deal dengan tempat dan lokasi makannya kami pun janjian ketemuan pas malamnya.

Singkatnya malamnya rencana dilaksanakan. Sebelum makan, karena ketemu sama teman jadi kita ngobrol-ngobrol dulu. Cerita punya cerita, akhirnya kami sampai bahasan yang menyangkut pernikahan. Maklum, yang ada-ada ini personilnya masih menjomblo semua. Jomblo dalam artian belum berkeluarga :D Memang kalau sudah umur-umur segini memang sukanya menyinggung tentang pernikahan. Nanya kapan kawin lah, atau udah dapat pasangan lah, sudah punya pacar lah dan lain-lain. Nah, ketika obrolan kami sampai pada hal yang begini entah mengapa kami jadi terceritakan tentang seorang teman yang sepertinya pada waktu dekat ini maunya menikah. Ada sesuatu yang berbeda sehingga kami cukup membuat ini jadi bahasan. Bedanya adalah temanku yang mau menikah itu mau caranya dengan membuat proposal. Pada mulanya timbul pertanyaan, proposal apa sih? Memang orang yang kerjanya PNS trus mau menikah harus mengajukan proposal dulu? Ternyata proposal yang dimaksud adalah semacam membuat pinangan dengan mengajukan tulisan-tulisan berisi maksud dan tujuan. Lengkap dengan kutipan hadits Nabi dan ayat AlQuran serta biodata lengkap penulis, kemudian ditujukan kepada perempuan yang ingin dilamar. Hadits dan Ayatnya pun dikutip yang bertemakan cinta, keluarga dan indahnya hidup dalam rumah tangga. Cara melamar yang menurutku teramat halus dan sopan tapi tetap gentle.

Aku tak ingin menceritakan bagaimana orang yang mengirim proposal tapi aku hanya merangkum pembicaraan tentang caranya tadi. Zaman sekarang menurut kami (atau hanya sebatas pengetahuan kami) memang jarang melakukan hal yang seperti itu. Kalau mau menikah hal yang lumrah biasanya adalah berpacaran terlebih dahulu. Meski dalam agama islam memang tidak mengenal yang namanya berpacaran tapi karena ingin mengetahui bagaimana orang yang akan mendampingi hidup nanti maka ga sedikit orang yang memilih berpacaran terlebih dahulu. Tapi sesuai keyakinan dari diri masing-masing mungkin temanku lebih memilih mengajukan lamaran dengan mengirim proposal pada orang yang ingin dijadikan pendamping hidupnya. Dan tahu sendiri lah, yang begini memang biasa dilakukan oleh orang yang agamanya secara kuat. Kuat tapi bisa juga belum sepenuhnya fanatik. Perempuan yang dilamar pun bukan sembarangan, mereka melihat dari sisi kesholehannya. Jadi kalau sudah begini, seandainya sang perempuan yang menerima proposal dan menyatujui lamaran itu maka tanpa adanya proses pacaran mereka akan langsung mengikat janji untuk membangun kehidupan baru. Cara yang sekilas terlihat praktis tapi susah dilakukan.

Lalu apa yang menjadi perhatian kami? Kami mengagumi sikap yang demikian. Hari gini dimana zaman yang udah Nampak gila-gilaan ternyata masih ada yang memegang teguh sebuah hal yang berbeda tapi baik. Kami pun mulai membanding-bandingkan dengan diri masing-masing. Salah satu temanku mengaku mungkin tak sanggup harus mencari calon dengan cara yang demikian. Kami memang sepakat bahwa berpacaran memang tak wajib dilakukan tapi bagaimana pun dirasa memang perlu waktu untuk mengenal satu sama lain sebelum memutuskan untuk mengikat janji setia seumur hidup. Temanku yang satunya lagi mengaku memang sekarang memiliki pacar tapi sebatas untuk saling mengenal. Siapa tahu entar dia memang jodohnya atau bukan. Kalau aku sendiri tak menolak juga jika harus memulainya dengan hal yang demikian tapi dengan niat memang untuk mengenal lebih banyak dan tidak bermaksud main-main. Ah, mengerti sendiri lah apa maksudnya. Dan ini adalah obrolan para lelaki yang berumur 23-an, jadi buat yang umur dibawah itu dan tidak mengerti apa maksudnya janganlah sampai bingung. Entar pas umurnya sudah sampai kamu akan mengerti sendiri juga :)

Akhir dari obrolan kami adalah kami menyimpulkan bahwa segala sesuatunya kita kembalikan ke niat kita. Boleh lah saja melakukan hal yang berbeda atau pun bagaimanpun cara yang lain, tapi haruslah dengan niat yang baik. Sesuatu yang diawali dengan hal yang baik Insya Allah akan berakhir dengan yang baik pula. Tapi jika pada awalnya memang hanya untuk main-main maka siap-siap pula pada akhirnya perasaan kamu akan dipermainkan juga. Yang sebelumnya di ramalkan indah bisa saja berubah menjadi tak seindah yang diharapkan. Malah lebih buruk. Satu kesimpulan lagi, menurut kami diri kita haruslah berpegang pada pedoman (baca: agama) dan menyerahkan sepenuhnya terhadap apa yang kita telah usahakan kepada TYME agar mendapatkan hasil yang terbaik. Kesimpulan sudah didapat, makananpun tiba. Karena sudah lapar yaaa sikat aja lagi apa yang tersaji hehee… Thanks ya buat yang merasa mentraktir. Pulang kerumah dengan membawa perut yang sudah kenyang dan membawa pikiran yang penuh dengan kata-kata obrolan tadi dan aku segera menuliskannya di lappiku :)